Daerah  

Kota yang Pernah Bermimpi Terang

Ilustrasi: sebuah kota kecil bernama Lamera.

Infopulau.com — Diujung timur negeri, diantara pulau-pulau yang diselimuti kabut dan ombak, berdiri sebuah kota kecil bernama Lamera. Kota itu dulu nyaris tak terdengar dalam peta pembangunan nasional.

Tahun berganti, pemimpin datang dan pergi. Hingga suatu masa, hadir seorang bernama Arwan Malik, putra seorang petani yang membawa gagasan baru bagi kota Lamera. Ia menyebutnya “kota terang dan layak huni.”

Dari ruang kerja sederhana yang menghadap laut, Arwan menulis rencana yang kala itu dianggap sebagian warga mustahil untuk kota Lamera.

Ia ingin membangun pelabuhan berskala nasional, menata taman kota dengan lampu di sepanjang teluk, menghadirkan pedestrian ramah pejalan kaki, terminal modern, dan kawasan wisata air panas alami, semuanya dibiayai dari hasil gotong royong masyarakat Lamera senilai 300 miliar rupiah.

Semua itu disusun dalam satu semangat: membangun peradaban dari kota kecil yang dulu gelap. Tanpa pinjaman, tanpa utang, hanya berbekal keberanian dan keyakinan, Arwan yakin bisa mengubah wajah kota itu.

Pembangunan pun  berjalan. Lamera mulai bergeliat. Rakyat percaya, kota ini bisa berubah di tangannya.

Sayangnya, takdir berkata lain. Arwan Malik berpulang terlalu cepat. Kota kehilangan sosok yang menyalakan semangatnya. Sejak saat itu, terang perlahan berubah menjadi redup.

Kursi kepemimpinan kemudian beralih ke Razan Karim, pemimpin muda yang datang dengan janjinya, tapi tanpa api yang sama. Ditangannya, mimpi besar itu seperti kapal kehilangan Kompas.

Pelabuhan yang dirancang sebagai simpul ekonomi kini terbengkalai. Terminal modern yang sempat menjadi kebanggaan kini hanya menyisakan fondasi dan debu. Lampu taman sering padam, trotoar mulai retak.

Bahkan, di bukit air panas yang dulu dirancang sebagai destinasi wisata unggulan, yang tersisa kini hanyalah angin malam dan suara serangga yang menggema, seolah mengulang pertanyaan yang tak pernah terjawab:

“Ke mana perginya 300 miliar yang dulu dijanjikan untuk membangun kota ini?”“Kenapa laporan tak pernah diumumkan?”. “Dan kenapa setiap pertanyaan selalu dijawab dengan kalimat yang sama: masih proses dan efisiensi?”.

Rakyat Lamera tak lagi berharap banyak. Yang dulu menatap masa depan dengan keyakinan, kini hanya menghela napas panjang di antara reruntuhan janji.

Seorang lelaki tua di pelabuhan pernah berbisik lirih, “Zaman Arwan, kami punya harapan. Zaman Razan, kami hanya punya alasan.”

Kata-kata itu pelan, tapi menikam. Seperti doa yang tak pernah sampai ke langit. Kini, Lamera bukanlah kota yang mati, melainkan kota yang kehilangan arah.

Kota yang dulu bermimpi menjadi simbol kemajuan, kini menjadi cermin tentang bagaimana mimpi bisa dimatikan oleh tangan yang tak menjaganya.

Meski demikian, sejarah selalu punya cara menyalakan kembali api yang padam. Sebab mimpi tak bisa dikubur, selama rakyat masih percaya bahwa tanah mereka pantas bersinar.

Dan ketika hari itu tiba, sejarah akan mencatat dengan jujur: siapa yang membangun terang, dan siapa yang membiarkannya padam. (*)

 

Sebuah kisah dari Redaksi Infopulau.com