Perairan Obi Hijau Pekat Disertai Bau Busuk, Warga Curiga Ada Pencemaran

Foto: Perubahan warna perairan di pesisir Desa Jikotamo dan Dermaga Jojame, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Foto: Perubahan warna perairan di pesisir Desa Jikotamo dan Dermaga Jojame, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Infopulau.com — Perubahan warna perairan di pesisir Desa Jikotamo dan Dermaga Jojame, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, memantik tanda tanya besar. Sumber kehidupan para nelayan itu mendadak berubah menjadi hijau pekat bercampur noda merah kecokelatan disertai bau busuk yang menyengat.

Fenomena tersebut bukan baru terjadi. Warga menyebut kondisi itu telah berlangsung sekitar satu pekan dan memunculkan kekhawatiran serius akan dugaan pencemaran lingkungan.

Perubahan warna air laut secara drastis bukan persoalan estetika, melainkan indikator yang patut diselidiki secara ilmiah. Berbagai kemungkinan dapat menjadi penyebabnya, mulai dari ledakan alga (algal bloom), sedimen yang terbawa arus, serta dugaan masuknya limbah dari aktivitas perusahaan.

Seorang warga Jikotamo kepada media ini mengatakan, sehari setelah perairan mengalami perubahan warna, sebuah kapal berukuran besar terlihat mondar-mandir di muara desa pada malam hari sekitar pukul 03.30 WIT. Namun, warga mengaku tidak mengetahui asal kapal tersebut.

“Kami menduga kapal itu membuang limbah ke perairan ini. Sebab, setelah kapal tersebut mondar-mandir, kondisi air berubah seperti sekarang, tampak seperti limbah dan mengeluarkan bau busuk,” Tegas warga itu tak mau namanya digubris.

Menurutnya, keadaan semakin mengkhawatirkan apabila dibiarkan tanpa respons cepat dari pemerintah maupun instansi berwenang. Diwilayah yang marak aktivitas industri dan pertambangan, setiap perubahan kualitas perairan harus menjadi perhatian serius.

Warga meminta, Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait segera melakukan pengujian laboratorium terhadap kondisi perairan tersebut.

“Pemerintah harus memastikan kualitas air masih aman bagi nelayan, biota laut, dan masyarakat pesisir atau tidak. Jika memang terjadi pencemaran, tentu akan berdampak terhadap masyarakat yang mengonsumsi ikan dari perairan ini,”Cetusnya.

Menurut warga, keterlambatan pemerintah melakukan investigasi akan memperparah situasi. Sebab, laut bukan tempat pembuangan limbah, melainkan ruang hidup yang menopang ekonomi, sumber pangan, dan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Karena itu, warga mendesak pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, serta aparat penegak hukum segera turun ke lokasi, mengambil sampel air, mengumumkan hasil uji laboratorium secara terbuka, dan menindak tegas apabila ditemukan pelanggaran.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Selatan maupun Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku Utara masih dalam upaya dikonfirmasi wartawan terkait fenomena perubahan warna perairan di Obi tersebut. (*)