Infopulau.com — Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Dr. Muamil Sunan, mendesak Kepala PLN UP3 Ternate, Mufid Arianto, segera mengevaluasi dan mencopot Kepala ULP PLN Laiwui, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Alfrizal Abdullah Sanjani.
Desakan itu muncul menyusul pemadaman listrik yang dilakukan PLN ULP Laiwui tanpa pemberitahuan kepada masyarakat. Menurutnya, pemadaman tersebut terjadi berulang kali dalam sehari dan terus berlangsung.
“Kepala PLN UP3 Ternate, Mufid Arianto, harus bersikap tegas. Jika hasil evaluasi menunjukkan adanya kelalaian, maka pencopotan Kepala ULP PLN Laiwui perlu dipertimbangkan sebagai upaya menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tegas Muamil.
Ia juga mendesak agar Kepala ULP PLN Laiwui memberikan penjelasan secara terbuka terkait tata kelola operasional pembangkit, khususnya penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menurut Muamil, keterbukaan informasi penting untuk menjawab keresahan masyarakat sekaligus mencegah munculnya berbagai spekulasi terkait pemadaman listrik yang terus berulang.
“PLN perlu menyampaikan penjelasan berbasis data mengenai operasional pembangkit, termasuk pasokan dan penggunaan BBM. Dengan begitu, masyarakat memperoleh informasi yang jelas dan tidak timbul berbagai spekulasi,” ujarnya.
Akademisi ini juga mendorong pihak berwenang agar melakukan audit terhadap tata kelola operasional pembangkit guna memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan dan dapat dipertanggungjawabkan.
“PT PLN (Persero) melalui unit pengawasan internal perlu melakukan audit terhadap tata kelola operasional pembangkit di ULP PLN Laiwui. Audit merupakan langkah yang wajar untuk memastikan pelayanan publik berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel,” tegasnya.
Muamil kemudian menyampaikan ilustrasi sederhana. Menurutnya, apabila mesin pembangkit berkapasitas sekitar 1.190 kW beroperasi selama lima jam, konsumsi BBM diperkirakan mencapai 1.400 hingga 1.800 liter atau setara sekitar 1,2 hingga 1,5 ton. Sebaliknya, apabila selama lima jam terjadi pemadaman sehingga mesin tidak beroperasi, maka BBM tersebut secara teknis tidak terpakai.
“Estimasi sederhana, konsumsi BBM yang tidak terpakai selama lima jam diperkirakan berkisar 1.400 hingga 1.800 liter atau setara sekitar 1,2 hingga 1,5 ton. Jika pemadaman terjadi terus-menerus, bahkan dalam sehari penuh, maka perlu ada penjelasan mengenai alokasi BBM yang tidak terpakai tersebut,” cetus Muamil.
Menurutnya, PLN juga perlu menjelaskan hubungan antara durasi pemadaman dengan konsumsi BBM pembangkit. Dengan kapasitas sekitar 1.190 kW, secara teknis mesin pembangkit tidak mengonsumsi BBM saat tidak beroperasi. Sementara itu, pasokan BBM ke pembangkit tetap berjalan sehingga kondisi tersebut perlu dijelaskan kepada publik.
“Karena itu, data mengenai durasi pemadaman, jumlah pasokan BBM yang diterima, serta realisasi penggunaannya perlu dibuka kepada publik. Transparansi akan memberikan kepastian kepada masyarakat sekaligus menghindari munculnya berbagai dugaan,” Tandasnya.
Hingga berita ini dituturkan, pihak ULP PLN Laiwui masih dalam upaya konfirmasi wartawan guna memperoleh tanggapan resmi. (*)



