Geger! Kapolri Sampaikan ke Prabowo: Lawan Api Pakai Tepung Ubi

Foto: Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan hutan saat musim kemarau.

Infopulau.com — Biasanya tepung masuk dapur untuk membuat gorengan, kue atau makanan lainnya, kini tepung Ubi atau Singkong mendapat panggung baru: diproyeksikan menjadi senjata untuk melawan api.

Gagasan itu muncul dalam rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, pada Senin (24/8/2026).

Dalam agenda itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto soal bahan berbasis tepung ubi atau singkong dapat membantu mencegah dan memadamkan api.

Mendengar itu, Presiden Prabowo langsung tertarik. Ia meminta bahan tersebut diteliti, diuji dan dikembangkan dalam skala besar. Bahkan, Prabowo melontarkan istilah “ubi bombing” sebagai alternatif dari water bombing.

Prabowo juga menanyakan apakah tepung itu nantinya bisa dibawa menggunakan helikopter atau pesawat untuk ditebarkan dari udara ke wilayah yang terbakar.

Nah, disinilah publik mulai tersenyum sekaligus bertanya. Karhutla membakar ribuan hektare, pemerintah datang membawa tepung!.

Bukan berarti inovasi harus ditolak. Justru inovasi perlu didorong. Tetapi kalau api sudah menjalar di lahan luas, persoalannya bukan lagi seperti memadamkan api kompor di dapur.

Pertanyaannya sederhana: berapa ton tepung yang dibutuhkan untuk melawan api di ribuan hektare lahan? Dan kalau nanti helikopter dikerahkan membawa tepung, apakah pilotnya akan mendapat panggilan baru: pilot ubi bombing?

Leluconnya memang menghibur. Tetapi persoalannya sangat serius. Sebab, Kapolri sendiri menyampaikan bahwa bahan tersebut masih membutuhkan penelitian dan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitasnya.

Artinya, tepung itu belum boleh diperlakukan seolah-olah sudah menjadi senjata pamungkas melawan karhutla.

Disinilah Prabowo justru perlu lebih hati-hati. Ketika Presiden mengatakan produksi perlu dilakukan dalam skala besar dan meminta pengajuan anggaran, publik tentu berhak bertanya: apakah efektivitasnya sudah benar-benar teruji sebelum uang negara digelontorkan?

Jangan sampai ceritanya berubah menjadi begini: Air belum cukup, tepung dicoba. Api belum padam, anggaran yang terbakar.

Kapolri pun tidak luput dari pertanyaan. Kalau inovasi itu ditemukan dari anggota Babinsa di Lubuklinggau dan kapasitas produksinya sendiri disebut masih kecil, mengapa temuan itu langsung dibawa ke meja Presiden sebelum ada pengujian independen yang benar-benar kuat.

Bukankah lebih aman membuktikan dulu di laboratorium dan lapangan, kemudian baru bicara produksi massal. Sebab, dalam penanganan bencana, optimisme boleh tinggi, tetapi pembuktian harus lebih tinggi.

Presiden Prabowo memang membutuhkan terobosan. Kapolri juga membutuhkan inovasi. Akan tetapi keduanya jangan sampai terjebak pada logika bahwa setiap gagasan baru otomatis menjadi solusi.

Karhutla membutuhkan teknologi yang teruji, murah, efektif dan bisa diterapkan dalam skala besar. Kalau tepung singkong mampu melakukan itu, silakan buktikan. Kalau berhasil, tentunya Indonesia menemukan senjata baru: dari “water bombing” naik kelas menjadi “ubi bombing”.

Tetapi kalau belum terbukti, jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan satu kesimpulan: Api masih dicari cara memadamkannya, tetapi pemerintah sudah lebih dulu menemukan cara membuat publik tertawa. (*)