Infopulaum.com — Setelah 26 hari terombang-ambing di tengah Samudra Pasifik, Esau Sidemo (57), nelayan asal Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, akhirnya kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya.
Dibalik kepulangannya, tersimpan kisah perjuangan luar biasa. Selama 26 hari di tengah lautan, Esau harus bertahan hidup dengan memanfaatkan apa pun yang tersedia di sekitarnya.
Kisah tersebut mendapat perhatian Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Arif Budiman, S.I.K., M.H., yang mengunjungi dan bertemu langsung dengan Esau di kediaman saudaranya di Kelurahan Tubo, Kota Ternate Utara, Minggu (23/8/2026).
Kunjungan tersebut bukan hanya untuk memastikan kondisi Esau setelah kembali dari perjalanan panjang, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian dan empati Polri kepada warga yang baru saja melewati salah satu pengalaman terberat dalam hidupnya.
Dihadapan Kapolda, Esau menceritakan perjuangannya mempertahankan hidup setelah perahu yang digunakannya untuk melaut terbawa arus dan semakin jauh ke tengah laut.
Peristiwa itu bermula pada 7 Juli 2026. Saat sedang melaut, kondisi cuaca dan arus membuat Esau kehilangan kendali atas arah perahunya. Ia kemudian terbawa semakin jauh hingga akhirnya berada di tengah Samudra Pasifik.
Sejak saat itu, perjuangan menghadapi lautan dimulai. Hari pertama berlalu, kemudian hari kedua, ketiga dan seterusnya. Pertolongan tak kunjung datang.
Persediaan makanan dan air semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, Esau tidak lagi memiliki banyak pilihan. Naluri untuk bertahan hidup membuatnya memanfaatkan apa pun yang masih dapat ditemukan.
Ketika rasa haus semakin menyiksa dan tidak ada air bersih yang dapat diminum, Esau bahkan terpaksa meminum air urinenya sendiri.
Untuk mengatasi rasa lapar, ia memanfaatkan apa yang diberikan laut. Ikan yang masuk ke dalam perahunya dimakan, begitu pula burung laut yang berhasil ditangkap.
Esau juga menemukan buah kelapa yang terbawa arus. Meski kondisinya sudah membusuk, air kelapa tersebut tetap diminumnya demi mempertahankan hidup.
Dalam situasi normal, mungkin hal-hal tersebut tidak terpikirkan. Namun, di tengah lautan luas tanpa kepastian kapan pertolongan datang, pilihan Esau hanya satu, yakni melakukan apa pun yang masih mungkin dilakukan agar tetap hidup.
Selama kurang lebih 26 hari, Esau bertahan dalam kondisi penuh keterbatasan. Ia menghadapi rasa lapar dan haus, panas dan dinginnya laut, serta ketidakpastian apakah dirinya masih dapat kembali bertemu keluarganya.
Meski demikian, harapan untuk pulang tidak pernah hilang. Hingga akhirnya, pertolongan yang ditunggu datang. Esau ditemukan oleh kapal kargo LNG Endeavour berbendera Prancis di Samudra Pasifik pada koordinat 07°33.5′ N / 138°59.7′ E.
Awak kapal kemudian mengevakuasi Esau dan memberikan pertolongan. Ia selanjutnya menjalani penanganan medis di Rumah Sakit China sebelum akhirnya dapat kembali ke Indonesia dan bertemu keluarganya.
Mendengar langsung kisah tersebut, Kapolda Maluku Utara menyebut perjuangan Esau sebagai pengalaman luar biasa sekaligus pelajaran penting bagi masyarakat, khususnya para nelayan.
“Beliau (Esau Sidemo) ini terdampar di Samudra Pasifik kurang lebih 26 hari dan masih bisa bertahan hidup sebelum dievakuasi oleh kapal berbendera Prancis,” Ujar Arif.
Kapolda mengatakan, berbagai hal yang dilakukan Esau selama berada di tengah laut merupakan bentuk perjuangan dalam kondisi darurat untuk mempertahankan kehidupannya.
“Semua itu terpaksa dilakukan untuk bertahan hidup,” Ungkapnya.
Dari pengalaman tersebut, Kapolda mengingatkan seluruh nelayan di Maluku Utara agar tidak mengabaikan keselamatan ketika hendak melaut.
Menurutnya, kondisi cuaca dan gelombang harus menjadi pertimbangan utama. Nelayan juga diharapkan memastikan kondisi kapal, mesin, alat komunikasi, serta perlengkapan keselamatan sebelum berangkat.
“Pesan saya ke semua nelayan, jangan paksakan diri melaksanakan aktivitas melaut jika gelombang tinggi,” Tegas Kapolda.
Selain memberikan dukungan moril, Kapolda Maluku Utara bersama jajaran juga menyerahkan bantuan sembako kepada Esau dan keluarganya.
Bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian Polri sekaligus dukungan kepada Esau setelah melewati musibah yang menguji fisik dan mentalnya selama hampir satu bulan di tengah lautan.
Esau pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kapolda Maluku Utara, Kapolres Ternate, serta seluruh jajaran Polri atas perhatian yang diberikan kepada dirinya dan keluarga.
“Tidak banyak yang bisa kami sampaikan selain ucapan terima kasih. Bantuan berupa sembako ini merupakan bukti kepedulian Polri terhadap kami,” Kata Esau.
26 hari di tengah Samudra Pasifik telah mengajarkan Esau satu hal: ketika semua jalan seolah tertutup, harapan untuk hidup dapat membuat seseorang bertahan lebih jauh dari yang pernah dibayangkan. (*)



